Journey to Arabia – 2

Tak terasa sudah hampir 8 bulan saya berada di Riyadh. Walaupun sampai saat ini saya tidak bisa berbahasa Arab sama sekali (karena lingkungan kerja saya berbahasa Indonesia atau Inggris), tetap ada beberapa hal yang bakal menjadi kenangan manis manakala saya meninggalkan negeri padang pasir ini.

Berikut saya memberikan pandangan sekilas saya tentang Riyadh dan dunia Arab (catatan: belum tentu sesuai fakta, ini semua berdasarkan penilaian subjektif saya):

1. Cara mengemudi orang Arab ngawur semua. Hampir setiap hari ada kecelakaan mobil. Berbeda dengan di Indonesia yang memang banyak kendaraan bermotor baik roda dua maupun empat, di Riyadh maupun di kota-kota lain di Arab Saudi jumlah kendaraannya cenderung lebih sedikit. Rasio antara jumlah kendaraan dengan infrastruktur jalan pun jauh lebih kecil dibandingkan Indonesia. Jalan-jalan di Riyadh pun cenderung lurus, lebar, dan luas. Tetapi tetap saja sering terjadi kecelakaan karena cara mengemudi orang-orang Arab yang ngawur. Berhati-hatilah naik taxi atau minibus. Apalagi kalau yang mengendarainya orang Arab asli. Beruntung kebanyakan sopir taxi disini berasal dari Pakistan, India atau Bangladesh.

2. Cara berbicara orang Arab cenderung berteriak-teriak. Berbeda dengan orang Indonesia, mungkin ini adalah tabiat yang memang ada di dalam diri orang Arab. Tetapi saya perhatikan kalau mereka berbicara dalam bahasa Inggris atau berbicara dengan orang asing, cara bicara mereka berubah menjadi lebih baik.

3. Arab Saudi maupun negara-negara Arab lainnya sejak dulu telah menjadi surga bagi para pencari kerja. Hampir dimana-mana kita bisa melihat orang pendatang. Di Riyadh sendiri, saya sering menjumpai orang-orang asing yang bekerja mencari nafkah disini. Selain orang Indonesia yang biasa menjadi sopir atau pekerja untuk lelaki dan pembantu rumah tangga untuk perempuan, ada juga orang India dan Sri Lanka yang menjadi penjaga toko HP, toko buku (spt JARIR Bookstore), toko donuts, dll. Pria Filipina biasa juga menjadi penjaga toko atau pekerja, sedangkan perempuan Filipina biasa menjadi suster rumah sakit atau PRT. Ada pula ekspat-ekspat Cina, Korea, dan Malaysia yang biasanya menjadi tenaga ahli disini. Selain dari Asia, ada juga pekerja pendatang dari negara-negara Arab lain seperti Jordan, Syria, serta dari Afrika seperti Mesir.

4. Budaya Arab memang sangat berbeda dengan budaya Indonesia. Walaupun demikian, kehidupan di Arab sendiri ternyata banyak pula dipengaruhi oleh citarasa dari negeri asing lainnya. Katakanlah seperti “nasi mandi” yang biasa dikonsumsi orang Arab yang sesungguhnya sangat mirip dengan nasi biryani India. Hampir semua produk-produk konsumsi Arab berasal dari negara lain, seperti beras dari India, mie instan dari Indonesia, bumbu-bumbu dari India, pakaian dari Cina, dll. Tetapi saya salut dengan cara orang Arab mempertahankan kebudayaannya di tengah gempuran produk-produk asing. Pria Arab hampir selalu memakai pakaian terusan panjang khas Arab yang disebut “thobe”, sedangkan wanitanya setiap kali keluar rumah akan selalu memakai “abaya”. Thobe sering kali terlihat berwarna putih sedangkan abaya berwarna hitam.

5. Menurut saya, sebagai orang dengan lidah Asia, masakan Saudi kurang menggugah selera. Pasalnya selain minimnya varian masakan, juga masakan yang tersedia kurang spicy. Jadi soal masakan, saya tetap memilih Indonesia yang banyak varian dan pas di lidah saya. Btw, my top 3 cuisine are: Indonesian, Chinese and Thailand.

– bersambung rek-

Journey to Arabia – PART 1

Pertengahan bulan Juni 2009 menjadi salah satu momen yang sangat menantang bagi saya. Bagaimana tidak, pada saat itulah untuk pertama kalinya selama 22 tahun hidupku, aku akhirnya pergi melihat dunia luar. Apalagi ini tidak tanggung-tanggung. PT. Waskita Karya – tempat dimana saya bekerja – menugaskan saya ke Riyadh, Arab Saudi. Tanpa banyak pertimbangan bertele-tele, saya langsung dengan gembira menyambut hari besar itu.

Segala persiapan telah dilakukan, pulang ke kampung halaman juga saya sempatkan. Akhirnya pada hari H, saya berangkat beserta teman-teman yang lain. Pesawat antar benua akhirnya berhasil saya naiki. Saudi Airlines, itulah maskapai penerbangan asing yang pertama saya naiki. Pada awalnya perasaan senang, namun setelah melihat dan merasakan sendiri, saya kapok naik maskapai ini. Pesawatnya kecil dan kelihatan sangat sesak. Tempat duduknya kecil dan penuh. Dan coba tebak, selama 9 jam lebih perjalanan di udara, saya tidak mendapatkan hiburan yang berarti. Tidak ada miniTV seperti yang biasa ada di belakang masing-masing kursi penumpang. Majalah yang ada sudah lusuh dan kotor. Dibaca berulang-ulang pun membosankan karena isi majalah itu separuhnya berbahasa arab (jadi mana ngerti…). Ditambah lagi pelayanan pramugari/a nya tidak memuaskan. Tapi ada beberapa hal yang saya catat: pramugaranya hampir semuanya adalah orang Arab, sedangkan pramugarinya adalah orang Indonesia. Makanannya cukup mengobati kekecewaan saya. Dan yang sangat jelas terlihat adalah hampir sebagian besar penumpang adalah para TKI. Mungkin karena inilah maskapai ini murah dan minim fasilitasnya.

Sesampainya di Riyadh, udara kering dan panas terasa sangat berbeda dengan iklim di Indonesia. Kalau Indonesia dikatakan panas (tetapi setidaknya lembab), Riyadh bakalan seperti neraka. Dalam waktu sehari saja kulit kita akan langsung menghitam. Tetapi ada satu hal yang bisa kita pelajari dari cuaca di Timur Tengah, bahwasanya perbedaan suhu siang hari sangat jauh dengan di malam hari.

Lay out King Khalid International Airport (landasannya memakai perkerasan beton semua)

Tiba di Riyadh setelah menempuh perjalanan 9 jam lebih membuat badan kaku dan tidak enak (mungkin ini yang namanya jet-lag itu ya?!). Melakukan sedikit peregangan tentu akan sangat membantu. Apalagi desain interior King Khalid International Airport yang cantik dan menawan. Dengan desain minimalis khas Arab, bandara ini berhasil membuat saya merasa nyaman dan kagum. Tetapi lagi-lagi saya harus merasa kecewa dengan pelayanan imigrasinya. Bayangkan saja, kami harus menunggu selama 4 jam lebih untuk sekedar mendapatkan stempel. Tetapi tidak hanya kami saja, melainkan semua pendatang yang baru pertama kali tiba di Riyadh akan diberlakukan seperti itu. Apakah itu berarti para petugasnya sangat sibuk? Sebenarnya tidak juga, tampaknya memang begitulah kebijakan yang ada. Membuat para pendatang baru menunggu lamaaa sekallliiiiii. Tapi tenang saja, apabila anda sudah pernah datang sebelumnya, ada loket imigrasi khusus bagi para pendatang lama (re-entry visa). Dan itu kita tidak dibuat menunggu.

Desain interior King Khalid Airport

— Bersambung rek —