Guest Lecture “Apa Itu QS?”

On Dec 4th, CEM Program invited Mrs. Lies Dyana Moeis to give her experience and practices on quantity surveying for CEM students. Currently she is the Vice President of Directorate of Procurement and Development Cost Comptroller of Agung Podomoro Land.

20151204_141756 20151204_143547 20151204_153059 DSC00754 DSC00772 DSC00769 DSC00779 DSC00783 DSC00788

download the material

Guest Lecturing – Materi QS_LDM

Time at Large

Waktu dikatakan menjadi “time at large” apabila tidak terdapat kewajiban kontraktor untuk menyelesaikan pekerjaan dalam kurun waktu tertentu atau kewajiban kontraktor untuk menyelesaikan pekerjaan dalm kurun waktu tertentu di dalam kontrak menjadi lenyap. Dengan demikian, kontraktor memiliki kewenangan untuk menterjemahkan durasi waktu pelaksanaan pekerjaan untuk menyelesaikan pekerjaan konstruksi tersebut. Kontraktor hanya memiliki kewajiban untuk menyelesaikan pekerjaan dalam kurun waktu yang wajar/beralasan (reasonable time)[1]. Istilah kurun waktu yang beralasan itu sendiri merupakan sebuah isu yang harus diputuskan oleh pengadilan, tergantung pada semua kondisi-kondisi dalam kontrak.

Secara umum, aspek waktu dapat menjadi “at large” apabila:

  1. terjadi keterlambatan yang bukan disebabkan oleh kelalaian kontraktor dan tidak terdapat ketentuan kontraktual yang mengatur situasi tersebut di dalam kontrak; atau
  2. (apabila terdapat sebuah klausul khusus) konsultan MK gagal memberikan sebuah perpanjangan waktu pelaksanaan kepada kontraktor sebagaimana yang diatur dalam kontrak.

Lebih spesifik lagi:

  1. Tidak terdapat waktu atau tanggal penyelesaian disebutkan di dalam kontrak;
  2. Kurangnya kejelasan terkait ketentuan perpanjangan waktu;
  3. Ketika ketentuan perpanjangan waktu pelaksanan tidak dilaksanakan dengan baik, telah dilaksanakan dengan keliru, atau tidak diterapkan ;
  4. Ketika telah terjadi pengabaian terhadap persyaratan waktu aslinya;
  5. Ketika telah terjadi interferensi dari pemilik proyek dalam proses sertifikasi.

Belajar dari berbagai kasus yang sudah pernah terjadi sebelumnya terkait tidak adanya klausul perpanjangan waktu pelaksanaan, saat ini pada umumnya standar kontrak konstruksi internasional sudah menyediakan sebuah klausul khusus untuk perpanjangan waktu pelaksanaan. Adapun prinsip umum yang harus dipegang oleh konsultan MK adalah bahwa setiap klaim perpanjangan waktu harus dikaji, diputuskan dan diberikan kepada kontraktor sesuai dengan ketentuan-ketentuan dalam kontrak, dan kegagalan dalam melakukan hal tersebut mengakibatkan durasi waktu penyelesaian menjadi “at large”.

[1] Baca Hick v. Raymond and Reid (1893), British Steel Corporation v. Cleveland Bridge and Engineering Co. Ltd (1984), dan Machenair Ltd v. Gill & Wilkinson Ltd (2005).

 

— dikutip dari buku MANAJEMEN KONTRAK KONSTRUKSI – Pedoman Praktis dalam Mengelola Proyek Konstruksi oleh Seng Hansen, Gramedia (Mei 2015)

manajemen kontrak konstruksi

Pelaporan Perkembangan Pekerjaan

Salah satu kewajiban kontraktor dalam kontrak konstruksi adalah memberikan laporan perkembangan pekerjaan (work progress report) secara berkala kepada konsultan MK. Laporan perkembangan pekerjaan ini dapat diserahkan secara bulanan atau sesuai dengan periode yang telah ditentukan di dalam kontrak.

Berdasarkan laporan perkembangan pekerjaan ini, konsultan MK akan menilai progress aktual pekerjaan di lapangan dengan program kerja yang telah dibuat. Dari sini konsultan MK akan melihat apakah:

  • Progress aktual pekerjaan di lapangan terlalu lambat dan timbul kemungkinan terjadinya keterlambatan penyelesaian pekerjaan,
  • Besarnya progress aktual pekerjaan yang dapat dijadikan sebagai dasar pembayaran pekerjaan.

Apabila ternyata laporan perkembangan pekerjaan dan progress aktual pekerjaan di lapangan terlambat dari program kerja kontraktor, maka konsultan MK dapat menginstruksikan kontraktor untuk menyerahkan program kerja revisi dan mempercepat perkembangan pekerjaan di lapangan.

Laporan perkembangan pekerjaan disiapkan oleh kontraktor dan diserahkan ke konsultan MK. Laporan perkembangan pekerjaan ini meliputi:

  • tabel dan deskripsi detail progress pekerjaan;
  • dokumentasi (foto);
  • jadwal pabrikasi, inspeksi kontraktor, test, dan jadwal pengiriman;
  • fotokopi sertifikat pengujian, sertifikat material, dll;
  • daftar pemberitahuan maupun instruksi yang diberikan;
  • statistik keselamatan kerja dan termasuk evaluasi terhadap dampak lingkungan;
  • perbandingan antara progress realisasi dan rencana, termasuk peristiwa apapun yang mungkin mempengaruhi pekerjaan.

—– dikutip dari buku MANAJEMEN KONTRAK KONSTRUKSI – Pedoman Praktis dalam Mengelola Proyek Konstruksi oleh Seng Hansen, Gramedia (Mei 2015)

manajemen kontrak konstruksi

Spaghetti Bridge

Pada 10 September 2015, tim dosen dari prodi Arsitektur dan MRK (Manajemen & Rekayasa Konstruksi) diundang untuk mengisi materi tentang dunia konstruksi di SMAK Penabur Harapan Indah. Pak Sani selaku kaprodi Arsitektur memberikan sebuah materi tentang Profesi Arsitek sebagai sebuah profesi yang sexy. Sedangkan saya dari prodi MRK memberikan materi dan workshop creativity yang dikaitkan dengan konsep project management. Saya memberikan workshop berupa spaghetti bridge dimana siswa/i diminta untuk membentuk kelompok 6-7 orang dan kemudian membuat sebuah jembatan dari spaghetti. Jembatan itu kemudian akan dinilai berdasarkan beberapa kriteria antara lain persyaratan, waktu, bentuk dan uji kekuatannya.

Berikut adalah beberapa foto kegiatan tersebut.

membangun jembatan spaghetti Seng Hansen Sani memantau proses

IMG_5073 IMG_5071

 

seng hansen menilai berfoto bersama pemenang