Entrepreneurship & IT in Construction Industry

Kali ini mahasiswa/i prodi MRK memanfaatkan fasilitas di ruang lab komputer Universitas Agung Podomoro. Mereka berkumpul untuk mengikuti workshop yang berjudul “Entrepreneurship & IT in Construction Industry”. Workshop ini merupakan kolaborasi dari prodi MRK Universitas Agung Podomoro dengan PT. Builkindo – pengembang software BUILK di Indonesia.

Workshop ini diadakan pada hari Rabu, 25 Maret 2015 diikuti oleh 16 mahasiswa/i prodi MRK dan 5 peserta. Adapun tujuan dari workshop ini adalah:

  • Memberikan pemahaman mengenai peranan, perkembangan dan penerapan entrepreneurship dalam industri konstruksi
  • Memberikan pemahaman mengenai peranan, perkembangan dan penerapan teknologi informasi dalam industri konstruksi
  • Mengenal salah satu aplikasi manajemen konstruksi yaitu BUILK

Workshop ini dibagi ke dalam 2 sesi. Sesi pertama dibawakan oleh Bapak Arya P. Setiadharma selaku Presdir PT. Prasetia Dwidharma. Beliau memberikan sharing tentang pengalamannya menjadi seorang entrepreneur di industri konstruksi. Pada sesi kedua mahasiswa diajak untuk mencoba sendiri aplikasi online BUILK dengan didampingi oleh instruktur Ibu Salindri Eka Lestari (Manajer PT. Builkindo).

DSC03610

Advertisements

Managing Human Resources in Construction Industry – Contractor’s Perspective

Mahasiswa/i prodi Manajemen & Rekayasa Konstruksi (MRK) Universitas Agung Podomoro kembali memperoleh kesempatan berharga dengan dihadirkannya nara sumber berpengalaman dari kalangan praktisi sebagai dosen tamu yang diundang khusus untuk membagikan pengetahuan dan pengalaman kerja mereka yang berharga kepada calon penerus dan pemimpin industri konstruksi Indonesia di masa depan.

Kali ini Podomoro University mengundang Dra. Lien Herlina, ME. Beliau saat ini menjabat sebagai Manajer Human Capital Development di salah satu perusahaan konstruksi BUMN ternama yaitu PT. Waskita Karya (Persero) Tbk. Ibu Lien, biasa disapa demikian, memiliki segudang pengalaman di dalam pengembangan program-program yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya manusia terutama di industri konstruksi. Pengelolaan tersebut termasuk diantaranya pengembangan kepemimpinan dan manajerial, pelayanan terbaik, manajemen SDM, training outbound, dan rencana pensiun.

Acara perkuliahan dosen tamu berlangsung pada satu sesi mata kuliah Human Resource Management in Construction Industry, Rabu, 18 Maret 2015. Materi yang dibawakan beliau disampaikan dengan simple dan lugas (Anda dapat mengunduh materi tersebut pada link yang tersedia di bawah ini). Secara umum beliau membagi presentasinya menjadi 3 bagian, yaitu 1. pendahuluan yang berisi sejarah dan konsep human capital development, 2. HCM di perusahaan, dan 3. HCM di proyek. Sesi tersebut diselingi pula dengan banyak tanya-jawab dari beberapa mahasiswa/i. Selain itu, bu Lien juga memberikan hadiah berupa coklat batang bagi mahasiswa yang berhasil menjawab pertanyaannya. Diharapkan dengan perkuliahan tamu ini maka dapat menjembatani materi perkuliahan mahasiswa dengan praktek nyata yang ada di dunia kerja.

sesi tanya jawab

HC MANAGEMENT MARET 2015

poster mrk kuliah tamu

Successful Project Management

What should you have to become a successful project manager? There are 3 (three). First, skill which accounts for about 30%. Secondly, experience which accounts for about 40%. And the last 30% is your attitude. This is what Mr. Paul Christian shared during Construction Engineering & Management Seminar on Friday, December 18.

Mr. Paul Christian is a project director of Agung Podomoro Land and he has an expertise in this industry for more than 15 years. His position as the youngest director of APL is very strategic since 70% of APL projects must be approved by him. During the speech, Mr. Paul also gave a list of successful project criteria, ie. skill, networking, experience, risk taker, strategic thinking, effective, decision maker, good leader, coaching successfully, flexible, and good manner.

Here are some photos of this event.

DSC09379

DSC09400

DSC09425

MANAJEMEN PROYEK YANG SUKSES (by Paul) V1

Construction – A Great Career Path

What is it like to work in construction industry? This is what I speak in front of 100 students from SMA Marsudirini Bekasi on December 17. In this presentation, I explore more on the details of Indonesia construction industry, its potential, the classification of construction industry, the career path for those who love this very dynamic industry, and the trends in this industry for the next decades. With so many products and the the dependency of people towards construction industry, the choice to work and build a career in this industry is open and unlimited. After the presentation session, I asked the students to play an experiential game called If You Build It. Here are some photos of this event.

ae6222dd98d8d4c3d9f720b18d99d339

cf832877489aac9688cc78f0d7d76f31

9a3f4e1cc0ccd445065effcb92fb24f1

958e2489adb8b8d6c4ecac67c2dd4f14

Prodi CEM – rev2

CACAT PEKERJAAN KONSTRUKSI

APA ITU CACAT PEKERJAAN KONSTRUKSI

Pekerjaan bangunan atau konstruksi identik dengan pengeluaran biaya yang besar dan membutuhkan waktu yang tidak sedikit untuk membangunnya. Hal ini menyebabkan para pihak harus memperhatikan segala aspek selama proses pembangunan tersebut sehingga pemilik proyek (owner) tidak merasa dirugikan akibat ketidaksesuaian hasil akhir pekerjaan dengan spesifikasi dan desain yang telah disepakati bersama. Disinilah letak pentingnya pedoman desain dan spesifikasi yang jelas.
Ketika sebuah bangunan telah dinyatakan selesai, tidak tertutup kemungkinan adanya cacat-cacat pekerjaan (work’s defects) yang kemudian merugikan pemilik langsung bangunan (misalnya penghuni yang membeli rumah dari developer). Sebelum melangkah lebih jauh, kita perlu melihat terlebih dahulu apa yang dimaksud cacat pekerjaan konstruksi.
Cacat pekerjaan konstruksi adalah cacat pekerjaan yang mengurangi nilai dari sebuah konstruksi. Cacat pekerjaan konstruksi dapat terjadi sebagai akibat dari kesalahan desain oleh arsitek/perencana, cacat material, mutu pekerjaan konstruksi yang kurang baik, instalasi yang salah, pemanfaatan konstruksi yang tidak sesuai peruntukannya, atau kombinasi diantara hal-hal tersebut.
Salah satu definisi cacat pekerjaan konstruksi diberikan oleh Marianne (2005): suatu kegagalan dari sebuah komponen bangunan untuk dibuat sebagaimana seharusnya. Menurut Cama (2004), cacat pekerjaan dapat dibedakan menjadi 2 macam: cacat paten dan cacat laten.
Cacat paten adalah cacat pekerjaan yang terlihat secara langsung pada struktur. Contohnya kebocoran pada atap, retak pada pondasi, dll. Cacat paten ini mudah diidentifikasi dan oleh karenanya dapat dengan mudah diperbaiki.
Sedangkan cacat laten adalah cacat pekerjaan yang tersembunyi dan sulit untuk diidentifikasi. Biasanya cacat semacam ini baru teridentifikasi setelah dilakukan investigasi lebih lanjut terhadap akibat cacat pekerjaan yang tidak diketahui sebelumnya.

 

Beberapa tipe cacat pekerjaan konstruksi
1. Cacat desain – bangunan dan sistemnya tidak bekerja sebagaimana diharapkan (terutama terjadi pada desain yang kompleks dan rumit dan kurangnya perencanaan yang matang)
2. Cacat material – cacat akibat penggunaan material yang tidak tepat atau tidak sesuai spesifikasi meskipun pelaksanaan/instalasinya sudah baik
3. Cacat konstruksi – cacat yang timbul akibat pelaksanaan konstruksu yang kurang baik (poor workmanship)
4. Cacat akibat masalah geoteknikal – kondisi tanah yang tidak diharapkan dan kurangnya data akurat mengenai kondisi tanah

 

Penyebab-Penyebab Cacat Pekerjaan
– Kegagalan dalam perencanaan desain
– Kegagalan dalam pemilihan dan penggunaan material
– Kegagalan dalam pelaksanaan konstruksi
– Kegagalan dalam pemanfaatan konstruksi yang tidak sesuai peruntukannya

 

Klasifikasi Cacat Pekerjaan
Klasifikasi cacat pekerjaan bisa jadi sangat subjektif tergantung klasifikasi yang dibuat oleh masing-masing investigator. Klasifikasi tersebut bisa menjadi: cacat minor, cacat ringan, cacat sedang, cacat berat.

 

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BIAYA SELAMA PELAKSANAAN KONSTRUKSI

Pekerjaan konstruksi merupakan pekerjaan yang menuntut banyak sumber daya baik material, peralatan maupun tenaga kerja. Penjumlahan semua pengeluaran akibat pemanfaatan sumber daya ini menentukan total biaya konstruksi yang diperlukan untuk mewujudkan sebuah proyek yang telah diidamkan. Perencanaan yang baik termasuk perencanaan biaya konstruksi akan sangat menentukan jumlah total biaya konstruksi yang harus dikeluarkan oleh pemilik proyek maupun kontraktor selaku pelaksana.

Akan tetapi, terdapat beberapa faktor yang dapat dianalisa yang mempengaruhi biaya selama pelaksanaan konstruksi. Akibat dari ketidakmampuan mengelola biaya konstruksi dengan baik ini akan menyebabkan biaya konstruksi yang membengkak dan (bisa jadi) menurunnya kualitas pekerjaan.

Apa sajakah faktor-faktor tersebut?

1. Manajemen Proyek yang buruk

Manajemen proyek sangat tergantung pada kecakapan pemimpin/kepala proyek dan tim manajemen proyek di bawahnya. Hal ini dikarenakan setiap kebijakan pemimpin/kepala proyek dan timnya akan mempengaruhi setiap biaya yang dikeluarkan untuk terlaksananya pekerjaan. Bahkan sebuah proyek dengan potensi keuntungan yang baik dapat menjadi bunting apabila dikelola dengan manajemen proyek yang buruk. Ada 5 poin penting yang menjadi ciri khas manajemen proyek yang buruk:

  1. Kurangnya perencanaan dan koordinasi
  2. Kurangnya komunikasi antara sesama tim proyek maupun dengan pihak lain terkait
  3. Gagal mengidentifikasi permasalahan proyek
  4. Gagal beradaptasi dengan perubahan-perubahan
  5. Kurangnya pengendalian atas biaya dan pengendalian lainnya

2. Perubahan Desain

Perubahan desain dapat terjadi akibat banyak hal. Entah itu perubahan akibat permintaan pemilik proyek atau perubahan lainnya, perubahan desain ini akan mempengaruhi perubahan spesifikasi dan biaya, termasuk pula waktu pelaksanaan.

3. Kondisi bawah tanah yang tidak diharapkan

Siapa yang dapat memastikan kondisi bawah tanah tempat lokasi pekerjaan akan dilaksanakan. Penyelidikan lokasi dan pemetaan kondisi bawah tanah dapat dilakukan sebisa mungkin dengan pengujian tanah atau teknik dokumentasi lainnya. Tetapi kondisi aktual bawah tanah tetap tidak dapat dipastikan. Untuk itu selalu ada kemungkinan perubahan desain akibat kondisi bawah tanah yang tidak diharapkan.

4. Inflasi

5. Kekurangan supplai material maupun peralatan

Selama pelaksanaan konstruksi, bisa saja terjadi kekurangan supplai material maupun peralatan pada waktu-waktu tertentu. Memprediksi waktu-waktu tersebut akan menjadi sangat penting untuk menekan biaya transportasi dan biaya lain yang seharusnya tidak perlu terjadi.

6. Nilai tukar mata uang

Nilai tukar mata uang akan mempengaruhi biaya item-item pekerjaan yang berasal dari luar negeri/barang impor.

7. Partner yang tidak bagus

Pemilihan kontraktor yang tidak cakap atau pemilik proyek yang tidak memiliki kemampuan pendanaan yang memadai akan sangat mempengaruhi biaya konstruksi. Pemilihan kontraktor untuk proyek-proyek besar tentu akan melalui sebuah proses pemilihan/tender yang bertahap. Demikian pula dengan pemilihan subkontraktor atau supplier oleh kontraktor utama. Mengingat keterkaitan semua pihak akan sangat mempengaruhi total biaya pekerjaan, pemilihan partner yang baik menjadi sebuah keharusan.

8. Force majeure

Force majeure sering juga disebut “Acts of God” termasuk diantaranya adalah peperangan, bencana alam, kerusuhan, kebakaran, gempa bumi, ketidakstabilan politik dan ekonomi.

9. Faktor-faktor lainnya: politis, sosial, perkiraan biaya konstruksi yang salah (under-estimation), dll

 

Mengetahui faktor-faktor di atas akan memberikan kita gambaran untuk selalu waspada selama pelaksanaan konstruksi.

Mengatur Tugas-Tugas Manajer

Slide1

Sebagai seorang Project Manager, Anda tentu memiliki banyak sekali tugas yang apabila dibiarkan begitu saja akan membuat Anda lupa atau bahkan malas untuk menyelesaikannya. Tugas-tugas tersebut ada tentu untuk diselesaikan. Ada tugas rutin yang harus dimonitoring terus menerus, ada pula tugas-tugas yang sifatnya hanya sekali saja dilakukan. Nah, bagaimana cara mengatur agar tugas-tugas tersebut tidak menjadi beban bagi Anda?

1. Konsolidasikan

Anda tentu memiliki banyak sekali tugas dan biasanya Anda akan mencatat semua tugas-tugas tersebut di memo, buku, atau di gadget Anda. Tetapi hanya sekedar mencatat terkadang malah membuat Anda down dan malas untuk mengerjakannya. Apalagi bila tugas-tugas yang ada sangat banyak dan detail. Untuk itu Anda perlu konsolidasikan semua tugas-tugas tersebut. Tugas yang ada biasanya saling berkaitan satu sama lain. Temukan tugas-tugas yang sama dan saling terkait, buat dalam satu tema tugas yang lebih sederhana.

2. Prioritaskan

Dari sekian banyak tugas-tugas yang telah Anda konsolidasi, buatlah prioritas. Prioritas tugas tergantung dari segi waktu dan pentingnya tugas tersebut untuk segera diselesaikan. Bisa pula dari segi biaya dan akibat yang muncul apabila tugas tersebut tertunda.

3. Skedulkan

Buatlah jadwal/skedul tugas-tugas tersebut. Kapan harus dimulai, kapan harus selesai. Dengan membuat skedul, Anda dan tim akan tahu beban kerja yang harus dikerjakan. Buatlah skedul serealistis mungkin.

4. Update

Selalu update dengan tugas-tugas yang sudah Anda jadwalkan. Terkadang ada jadwal yang bergeser karena satu dan lain hal. Terus lakukan monitoring dan pasang deadline penyelesaian tugas.

5. Komunikasikan

Selalu komunikasi tugas-tugas Anda kepada tim Anda. Apa yang harus dikerjakan, dimulai, diselesaikan, didahulukan, dll. Komunikasikan pula bila sebuah tugas sudah selesai (atau tidak perlu lagi dikerjakan) sehingga tidak terjadi pemborosan energi tim Anda.