PhD Tips #4: Pentingnya bersinergi!

Memang perjalanan dan perjuangan sebagai seorang PhD student seringnya penuh dengan kesendirian. Kita sendirilah yang harus menjalaninya. Tetapi tidak menutup kemungkinan bagi kita untuk bertemu dan bersinergi dengan orang lain. Yang paling dekat tentu saja supervisor atau profesor kita. Mereka adalah orang-orang yang membimbing kita selama perjuangan kita untuk menyelesaikan penelitian. Mereka biasanya adalah senior lecturer atau guru besar yang sudah lama mengajar, mengetahui teknik membimbing, dan network yang luas. Terkadang memang mereka juga adalah orang-orang yang sibuk. Kita mau bertemu saja susah. Tetapi mari kita fokus pada kelebihannya yang harus dapat kita manfaatkan: bimbingannya, masukannya, dan network yang dimilikinya.

Orang lain yang mungkin kita temui adalah para ahli atau professional di lapangan. Dari merekalah kita membutuhkan data-data penelitian. Mereka bisa saja masih bekerja atau sudah pensiun karena usia. Kita juga harus dapat bersinergi dengan para expert ini. Merekalah sumber data penelitian kita di bidang ini. Kelebihan yang harus dapat kita manfaatkan: pengalaman, data, dan network mereka. Yah, walaupun terkadang kita harus mendengar cerita lama yang sama.

Terakhir adalah mahasiswa PhD yang lain. Untuk penelitian tertentu, kita perlu berkolaborasi dengan mahasiswa PhD lainnya. Mahasiswa PhD ini punya karakter yang bermacam-macam. Biasanya kalau masih baru (tahun pertama), mereka masih penuh semangat. Sedangkan kalau sudah tahun-tahun berikutnya (mahasiswa lama), mereka sudah memiliki banyak kesibukan lain atau tidak terlalu bersemangat dengan penelitian. Ini juga merupakan tantangan bagi kita. Bagaimana caranya untuk bersinergi dengan mahasiswa baru dan lama apabila kita melakukan collaborative research? Manfaatkan energi dari mahasiswa baru dan pengalaman ataupun data dari mahasiswa lama.

Sinergi menjadi penting bagi kita dalam menyelesaikan perjalanan panjang ini. Memahami dan mempercayai kelompok kita menjadi penting untuk memaksimalkan apa yang dapat dihasilkan oleh kelompok. Komunikasi, motivasi, dan saling percaya menjadi penting dalam kerja tim. Semoga saja lika-liku jalan panjang ini tidak terlalu banyak.

 

Berjuanglah dengan penuh semangat!

PhD Tips #3: Never Lose!

Sebuah pernyataan dari Siddhatta the Buddha bahwa semuanya berawal dari pikiran. Saya kira ini benar adanya. Pikiran secara umum dapat kita bagi menjadi dua: pikiran positif (atau rich mind) dan pikiran negatif (atau poor mind). Semakin kita melatih buah-buah pikiran kita dengan hal-hal yang positif, semakin kaya pula pikiran kita. Hal ini kemudian akan terwujud dalam bentuk tindakan-tindakan kita. Sebagai contoh, kita ingin menulis sebuah paper dan diterima di sebuah jurnal dengan impact yang tinggi (katakanlah Nature). Atau kita diminta menulis oleh profesor kita untuk masuk ke jurnal. Dengan pikiran yang miskin, kita sudah ketakutan terlebih dahulu. Mungkin kita berpikir: “sulit ngak ya memulainya?”, “nanti sudah capek-capek buat, tapi gak keterima gimana ya??”, dst. Hal ini bertolak belakang dengan orang-orang yang memiliki pikiran kaya. Mereka akan berpikir: “bagaimana memulainya?”, “apa yang harus saya lakukan pertama kali?”, “tujuan saya adalah jurnal A, kalau tidak jurnal B”, dst. Jadi kita sudah bisa membedakan bukan perbedaan cara pandang keduanya. Meskipun mereka dihadapkan dengan permasalahan yang sama, tapi perbedaan pola pikir dan cara pandang inilah yang menentukan kesuksesan seseorang.

Demikian pula dalam menjalani program PhD. Ada baiknya kita mulai berpikir bahwa kita tidak pernah kalah! Yang ada hanyalah (1) kita menang atau (2) kita belajar. Memang hanya ada dua itu kok sebenarnya hasil akhir dari program PhD. Hal yang sama kita terapkan untuk semua aktifitas kita. Contohnya, untuk dapat menyelesaikan PhD kita harus membuat penelitian, penelitian tersebut dipublikasikan ke dalam jurnal internasional bereputasi minimal 2x, dan berhasil menyelesaikan disertasi dan memukau panel sidang kita. Pemikiran “never lose!” ini kita terapkan untuk masing-masing aktifitas tersebut. Kita mencari jurnal untuk memasukan paper kita. Apabila jurnal ASCE atau Nature ternyata menolaknya, kita tinggal mencari jurnal lain yang menerima paper kita. Atau mungkin paper kita ternyata membutuhkan revisi. Biasanya jurnal-jurnal yang menolak kita akan memberikan jawaban atau respon mereka terhadap kekurangan dari paper kita. Itulah yang kita perbaiki. Jadi jangan malah berpikir bahwa “saya sudah kalah” duluan. Orang dengan pikiran kaya, akan selalu berusaha mencari jawaban dan solusi atas permasalahan yang mereka hadapi. Sedangkan orang dengan pikiran miskin akan selalu mencari alasan untuk menghindari permasalahan mereka.

Dan tenang saja. Sebenarnya semua orang mengalami permasalahan yang sama kok. Semua PhD akan mengalami jatuh-bangunnya masa-masa penelitian mereka. Cukup dinikmati dan dijalankan, dengan pikiran yang kaya. Again, it is not about losing the game! It is about playing and winning!

 

Berjuanglah dengan penuh semangat!

PhD Tips #2: Riset berubah!! Bagaimana menyikapinya?

Omg! Riset saya berubah karena profesor saya memintanya diubah. Bagaimana ini?!

Well, mungkin ini terjadi kepada beberapa orang PhD students, termasuk saya. Bahkan ketika kita telah mempersiapkan proposal riset yang kita anggap menarik pun, riset kita masih berubah. Apa sih yang tidak bisa berubah di dunia ini. Yang penting sebenarnya bukanlah merasa takut atau menjadi khawatir dengan perubahan tersebut. Tetapi bagaimana kita sebaiknya menyikapinya.

Sebenarnya saya sudah menyiapkan topik riset saya jauh-jauh hari, bahkan sudah dari setahun yang lalu sebelum saya menjadi PhD student. Kemudian ketika kita diterima, kita diberikan supervisor yang akan menjadi pembimbing kita selama program PhD kita berlangsung. Biasanya supervisor ini adalah profesor atau senior lecturer dan berjumlah dua orang. Nah, terkadang topik riset yang kita ajukan tidak in-line dengan interestnya supervisor kita. Inilah yang sering terjadi dan ketika kita pertama kali bertemu dengan supervisor untuk berdiskusi, supervisor kita akan mencoba menyampaikan secara halus kepada kita bahwa mereka menginginkan topik riset yang sejalan dengan topik riset mereka.

Lantas bagaimana menyikapinya?

Dalam kasus saya, saya mencoba berpikiran terbuka dan berusaha mendengarkan usulan topik yang mereka berikan. Syukurnya topik yang mereka berikan terdengar menarik dan bahkan menantang saya untuk melakukannya. Apabila demikian, hal ini bagus dan dengan demikian saya akan menutup topik riset lama saya dan mulai mencoba dari awal untuk mempelajari dan meneliti sesuai dengan topik baru yang diberikan ini. Saya mencoba tidak merasa rugi atas topik saya yang lama, karena saya yakin saya akan dapat melakukannya di lain waktu. Setelah saya lulus PhD mungkin.

Nah, kalau demikian, berarti saya cukup fokus dan mulai dengan topik baru yang diberikan. Ini pun tidak apa-apa. Asalkan perubahan topik riset ini dilakukan sejak awal (masih minggu-minggu pertama perkuliahan). Jangan sampai setelah satu atau dua tahun kemudian ganti topik riset! Perlu kita sadari bahwa hubungan interaksi antara supervisor dengan student menjadi hal paling penting dalam kehidupan kita sebagai PhD student. Ibarat kata, merekalah tiket kita untuk dapat selesai program PhD kita.

Terus bagaimana kalau ternyata topik riset yang diberikan itu berbeda sama sekali dengan keilmuan kita? Ini cukup jarang terjadi, tapi masih mungkin terjadi. Hal ini tentu memberatkan dan mengkhawatirkan bagi kita, apakah kita dapat menyelesaikannya?! Saran saya, usahakan diskusi lagi dengan supervisor dan beritahukan kesulitan-kesulitan anda. Katakan bahwa itu tidak sesuai dengan bidang ilmu anda, atau bahwa anda tidak memiliki interest terkait topik tersebut. Usahakan jujur sesegera mungkin daripada anda hanya diam dan membuang-buang waktu yang pada akhirnya anda sendiri menjadi tidak tertarik menyelesaikan studi PhD anda.

Mengapa?

Karena yang paling penting itu adalah bahwa anda tertarik dengan topik riset anda. Terserah apakah topik itu ide orisinil dari anda sendiri atau ide pemberian dari supervisor/orang lain. Banyak yang beranggapan bahwa akan memalukan apabila topik riset kita bukan berasal dari ide orisinil kita sendiri. Bagi saya ini adalah pandangan yang keliru. Hal yang memalukan adalah apabila kita meminjam ide orang lain tanpa memberikan apresiasi yang sepantasnya (aka. plagiarism). Oleh karena itu usahakan untuk sesegera mungkin berdiskusi dengan supervisor anda terkait topik riset, dan setelah ditemukan titik temunya, fokuslah pada apa yang menjadi topik riset anda.

 

Berjuanglah dengan penuh semangat!

 

PhD Tips #1: Be Efficient!

Ok! Sekarang saatnya saya untuk benar-benar serius menghadapi kehidupan baru saya sebagai seorang PhD student. Sudah 3 minggu saya datang ke negeri Kangguru dan sudah 1 minggu saya memulai perkuliahan (aka. Riset) di kampus. Minggu pertama ini terasa begitu cepat berlalu. Padahal yang saya lakukan hanyalah duduk di depan komputer, mencari referensi, membaca buku, berdiskusi dengan kedua supervisor saya (1x) dan mencoba berinteraksi dengan rekan-rekan PhD student lainnya. Dan karena saya masih ‘numpang’ di rumah orang, saya harus mencari tempat tinggal yang sesuai dengan budget dan sekaligus nyaman untuk ditinggali. Dan ternyata urusan mencari tempat tinggal di OZ tidak gampang. Saya harus melakukan inspeksi, mengisi formulir aplikasi rental, mengurus dan menandatangani perjanjian rental, mengurus koneksi utilitas (listrik, air, gas, internet) sampai nantinya harus mengambil kunci apartemen itu ke kantor agennya sebelum kepindahan saya nanti.

Belum lagi ternyata paper-paper yang saya kumpulkan selama 1 minggu ini ternyata tidak berguna dengan kepentingan riset saya. Sebenarnya ini karena setelah berdiskusi panjang lebar dengan kedua supervisor, akhirnya topik riset saya berubah. Dengan kata lain saya harus memulai dari awal dan mempelajari lagi hal yang baru bagi saya meskipun tidak sama sekali baru (baca tips #2 tentang cara menyikapi perubahan topik riset). Well, saya merasa satu minggu ini menjadi tidak efektif! Kalau begini saya mesti segera memantapkan diri saya sendiri dan harus belajar dengan cara yang lebih efisien!

Seperti yang kita ketahui (tapi mungkin tidak kita sadari), ada banyak sekali peristiwa yang terjadi di sekeliling kita dalam sehari. Mulai dari bangun tidur sampai pergi tidur, kita berinteraksi dengan diri kita sendiri dan dengan orang lain. Semua kejadian dan aktifitas itu ada yang benar-benar berguna dan memberikan dampak/pengaruh terhadap tujuan yang menjadi target kita. Ada pula yang tidak memberikan dampak/pengaruh, atau yang berdampak tetapi tidak besar. Nah apabila kita tidak fokus dengan hal-hal yang berdampak besar terhadap tujuan kita dan (seringnya) melakukan hal-hal sepele yang tidak berdampak dengan tujuan kita, maka kita menjadi tidak efisien. Kita hanya membuang-buang waktu dengan hal-hal yang dinamakan Out of the Circle of Influence. Kita hanya menjadi reaktif atas hal-hal yang sedang terjadi dengan kita.

Sekarang bagaimana caranya untuk menjadi efisien?

Pertama tentu saja kita harus menyadari bahwa menjadi efisien berarti kita harus mulai menetapkan prioritas berdasarkan dampak/pengaruhnya terhadap tujuan kita. Menetapkan prioritas ini dapat diartikan bahwa kita menjadi secara aktif menentukan apa yang penting untuk dilakukan oleh kita, tidak menjadi sekedar reaktif terhadap hal-hal yang sedang terjadi kepada kita. Dengan menjadi proaktif, kita memegang kendali atas hal-hal yang terjadi dan apa yang ingin dan sebaiknya kita lakukan.

Setelah kita menetapkan prioritas, kita juga harus membulatkan tekad dan memiliki self-discipline. Prioritas apapun yang telah kita tetapkan kalau tidak dibarengi dengan tekad dan disiplin untuk melakukannya, maka kita tidak akan maju memeroleh hasil yang kita inginkan. Kita menjadi tidak efisien! Tekad dan self-discipline ini harus terus dipupuk setiap saat, setiap hari dengan selalu mengingatkan diri sendiri terhadap prioritas dan hal-hal yang harus dikerjakan demi tercapainya tujuan. Salah satu caranya adalah dengan mencatat target/tujuan kita, dan prioritas hal-hal yang harus kita kerjakan. Kemudian setiap pagi usahakan untuk membacanya dan membulatkan tekad untuk melaksanakannya.

Terakhir adalah dengan mengejawantahkan prioritas tersebut kedalam program pelaksanaan yang lebih detail. Misalnya, sebagai seorang PhD student, saya mempunyai prioritas untuk membaca minimal 1 paper dalam 1 hari. Atau prioritas saya adalah untuk membentuk kelompok riset yang sesuai dengan topik saya sehingga akan dapat membantu saya. Bisa pula dengan memastikan bahwa saya akan menulis 4 jam dalam sehari. Semua ini adalah perwujudan dari prioritas-prioritas tersebut sehingga tujuan utama yang lebih besar (dalam kasus ini adalah menyelesaikan program PhD tepat waktu) menjadi tercapai.

hansen's room

 

Berjuanglah dengan penuh semangat!