Sekilas Quantity Surveyor

Pada tanggal 2 – 7 Mei 2011, Kementerian PU mengadakan pelatihan Quantity Surveyor (Ahli Muda) untuk pertama kalinya. Berikut saya lampirkan Laporan Pelatihan Quantity Surveyor yang saya buat. Semoga berguna….

PENDAHULUAN

Saat ini dunia usaha jasa konstruksi sudah berkembang pesat dan selalu diiringi dengan berbagai model pelatihan dan pendidikan yang disesuaikan dengan kebutuhannya. Dunia jasa konstruksi Indonesia juga sudah memasuki era globalisasi dimana tantangan dan aspek kebutuhannya sudah sangat kompleks dan meningkat. Untuk itu diperlukan sumber daya manusia yang handal dan mampu untuk selalu beradaptasi dengan kemajuan ilmu dunia konstruksi.

Salah satu profesi penting dalam dunia jasa konstruksi adalah Quantity Surveyor (QS). Quantity Surveyor memiliki peranan baik dalam perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan sebuah proyek. Atau dengan kata lain, keahlian Quantity Surveyor selalu diperlukan mulai dari awal perencanaan sampai akhir pengawasan sebuah proyek. Jasa Quantity Surveyor berkaitan dengan analisa dan perhitungan material, volume dan biaya proyek. Selain itu Quantity Surveyor juga terlibat dalam mata rantai hal-hal mendasar antara beberapa pihak yaitu klien, pemilik proyek, arsitek, kontraktor, konsultan dan supplier. Pertanggungjawaban seorang Quantity Surveyor terletak pada akuntabilitas sebuah proyek dan dapat memberikan good value for money yang sesuai dengan kondisi lapangan dan harus dapat dipertanggungjawabkan.

Sayangnya, hingga saat ini Indonesia masih belum memiliki baku kompetensi untuk profesi Quantity Surveyor. Selain itu jalur pendidikan untuk Quantity Surveyor juga dirasakan masih kurang, padahal keahlian dan tenaga professional Quantity Surveyor sudah sangat diperlukan baik untuk proyek swasta maupun pemerintah.

Berpijak pada Undang-Undang No. 18 tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi, khususnya Bab VII mengenai Peran Masyarakat, telah disebutkan bagaimana peran masyarakat harus diwujudkan oleh masyarakat jasa konstruksi. Peran masyarakat tersebut dengan berdirinya lembaga yang mempunyai tugas sebagaimana ditetapkan Pasal 33 ayat 2 adalah sebagai berikut:

  1. Melakukan atau mendorong penelitian dan pengembangan jasa konstruksi.
  2. Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan jasa konstruksi.
  3. Melakukan registrasi tenaga kerja konstruksi yang meliputi klasifikasi, kualifikasi dan sertifikasi keterampilan dan keahlian kerja.
  4. Melakukan registrasi badan usaha jasa konstruksi.
  5. Mendorong dan meningkatkan peran arbitrase, mediasi dan penilai ahli di bidang jasa konstruksi.

Sehubungan dengan penerapan Undang-undang di atas, Badan Pembinaan Konstruksi dan Sumber Daya Manusia, Pusat Pembinaan Kompetensi dan Pelatihan Konstruksi, Kementrian Pekerjaan Umum telah menyelenggarakan Pelatihan Quantity Surveyor (Ahli Muda) Angkatan I (Pertama) pada bulan Mei 2011 yang diikuti oleh 25 orang peserta dari 12 instansi berbeda.

PT. Waskita Karya sebagai salah satu BUMN pelat merah yang bergerak di bidang jasa konstruksi juga telah mengirim perwakilannya untuk mengikuti pelatihan tersebut sebanyak 5 orang peserta (instansi dengan jumlah peserta terbanyak). Selain itu PT. Waskita Karya juga mengirimkan seorang instruktur yaitu Bapak Ir. Sukarno Atmawijojo, MM yang mengisi sesi Bill of Quantities. Terdapat pula Bapak Ir. Asianto, MBA. IPU yang merupakan pensiunan PT. Waskita Karya yang mengisi sesi Analisis Biaya Konstruksi.

Untuk selengkapnya, silakan mengunduh file di bawah ini…

Lap Hansen QS

UU 18-1999 – Jasa Konstruksi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s