Renovasi Rumah Bukan Masalah


Setelah menempati suatu hunian/rumah dalam waktu yang lama, biasanya timbul kecenderungan penghuninya untuk merasa bosan dengan keadaan monoton itu. Hal ini menyebabkan seseorang untuk melakukan pindahan rumah, mengatur ulang interior design dalam rumah, atau bahkan merenovasi rumah yang mereka huni. Merenovasi rumah, entah itu mengubah atau menambah bagian rumah, terkadang masih dianggap sebagai suatu masalah. Hal ini dikarenakan dalam merenovasi rumah terkadang tidak diikuti dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu, misalnya pertimbangan biaya atau pertimbangan fungsi ruang. Terkadang seseorang menambah bagian rumah yang ternyata tidak memiliki fungsi tertentu atau sekedar membuat bukaan yang tidak sesuai tempatnya sehingga malah menyebabkan disfunction dari bukaan tersebut.

Untuk itu berikut diberikan beberapa pertimbangan sebelum Anda merenovasi rumah Anda.
1. Perhatikan pengelompokan ruang dalam rumah dan fungsinya. Ruang yang bersifat pribadi sebaiknya diletakkan pada suatu area untuk kenyamanan. Ruang-ruang yang dipakai bersama seperti ruang tamu, ruang keluarga, carport/garasi pada satu kelompok.
2. Perhatikan sirkulasi penghawaan alami. Sirkulasi udara yang baik adalah sirkulasi udara melintang ruangan (cross ventilation). Agar semua ruang di dalam rumah mendapatkan cross ventilation, maka rumah sebaiknya didesain menjadi bangunan satu lapis atau setidaknya dua lapis sehingga tidak ada ruang di dalam ruang. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah menempatkan ventilasi berdasarkan arah datang angin.

3. Perhatikan akses yang terjadi di dalam rumah. Akses sebaiknya diatur sedemikian rupa sehingga tidak terjadi cross circulation. Sehingga misalnya untuk membuang sampah rumah tangga atau membawa bawaan belanja tidak menggganggu kenyamanan di dalam rumah.
4. Perhatikan kemampuan dinding yang menghadap ke depan. Periksa apakah dinding tersebut mampu menahan terpaan sinar matahari yang berlebihan yang bisa merusak furnitur rumah dan buku-buku. Gunakan material yang tidak menyerap panas sehingga suhu dalam ruang tetap normal.

5. Perhatikan penempatan bukaan. Untuk dinding yang menghadap sumber kebisingan dan berdebu, misalnya jalan raya, sebaiknya jangan membuat bukaan (pintu dan jendela) yang berhadapan langsung dengan sumber tadi. Namun bila memang dirasa perlu untuk membuat bukaan, upayakan ada vegetasi outdoor yang dapat berfungsi sebagai filter debu.
6. Perhatikan pencahayaan yang masuk ke dalam rumah. Optimalkan pencahayaan alami sebagai pengganti pencahayaan buatan sehingga akan lebih menghemat penggunaan energi listrik.
7. Gunakan teritis dan sunscreen pada bangunan. Bangunan di negara-negara tropis seperti Indonesia memerlukan teritis atau sunscreen untuk menahan frekuensi cahaya matahari yang menerobos masuk ke dalam rumah. Sinar matahari yang berlebihan akan menimbulkan silau dan meningkatkan suhu udara dalam ruangan. Silau (glare) ini bisa menyebabkan gangguan kemampuan melihat mata (disability glare) dan gangguan kenyamanan (discomfort glare).

8. Siasati kebisingan yang menimbulkan ketidaknyamanan. Salah satu contoh sederhana adalah memanfaatkan pagar sebagai sound barrier. Untuk itu tinggi pagar minimal adalah 1,5 meter, terbuat dari bahan tebal dan masif. Manfaatkan kehadiran tanaman pada tubuh pagar sehingga memiliki dwifungsi, yaitu sebagai filter dan penambah nilai estetis.

9. Perhatikan material yang digunakan. Ada jenis material tertentu yang berbahaya bagi manusia. Sesuaikan jenis material yang akan digunakan dengan anggaran yang tersedia. Pastikan volume material yang diperlukan, bila ragu bisa tanyakan kepada pemasok/distributor material setempat. Gunakan material yang mudah diperoleh dan mudah dipasang.
10. Pastikan besaran biaya tambahan yang menyertai pemasangan, alat-alat bantu kerja dan material pendukung lainnya.
11. Ajukan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) ke Dinas Tata Kota setempat dengan membawa gambar rencana penambahan ruang.

Untuk penambahan ruang vertikal ke atas, maka hal lain yang perlu diperhatikan adalah:
12. Perhatikan kekuatan pondasi. Periksa apakah besaran pondasi kolom dan balok yang ada cukup kuat untuk diberi beban tambahan.
13. Pilih material yang mudah dipasang dan tidak mengganggu kegiatan di bawahnya selama pengerjaan berlangsung.
14. Konsultasikan masalah Anda dengan ahli struktur bangunan bila konstruksi tidak memenuhi kelayakan. Misalnya tanyakan bagian struktur mana yang memerlukan penguatan. Untuk menghemat biaya struktur pendukung, gunakan material yang ringan namun mampu menahan beban.

*****

Sumber: various

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s