Journey to Arabia – PART 1

Pertengahan bulan Juni 2009 menjadi salah satu momen yang sangat menantang bagi saya. Bagaimana tidak, pada saat itulah untuk pertama kalinya selama 22 tahun hidupku, aku akhirnya pergi melihat dunia luar. Apalagi ini tidak tanggung-tanggung. PT. Waskita Karya – tempat dimana saya bekerja – menugaskan saya ke Riyadh, Arab Saudi. Tanpa banyak pertimbangan bertele-tele, saya langsung dengan gembira menyambut hari besar itu.

Segala persiapan telah dilakukan, pulang ke kampung halaman juga saya sempatkan. Akhirnya pada hari H, saya berangkat beserta teman-teman yang lain. Pesawat antar benua akhirnya berhasil saya naiki. Saudi Airlines, itulah maskapai penerbangan asing yang pertama saya naiki. Pada awalnya perasaan senang, namun setelah melihat dan merasakan sendiri, saya kapok naik maskapai ini. Pesawatnya kecil dan kelihatan sangat sesak. Tempat duduknya kecil dan penuh. Dan coba tebak, selama 9 jam lebih perjalanan di udara, saya tidak mendapatkan hiburan yang berarti. Tidak ada miniTV seperti yang biasa ada di belakang masing-masing kursi penumpang. Majalah yang ada sudah lusuh dan kotor. Dibaca berulang-ulang pun membosankan karena isi majalah itu separuhnya berbahasa arab (jadi mana ngerti…). Ditambah lagi pelayanan pramugari/a nya tidak memuaskan. Tapi ada beberapa hal yang saya catat: pramugaranya hampir semuanya adalah orang Arab, sedangkan pramugarinya adalah orang Indonesia. Makanannya cukup mengobati kekecewaan saya. Dan yang sangat jelas terlihat adalah hampir sebagian besar penumpang adalah para TKI. Mungkin karena inilah maskapai ini murah dan minim fasilitasnya.

Sesampainya di Riyadh, udara kering dan panas terasa sangat berbeda dengan iklim di Indonesia. Kalau Indonesia dikatakan panas (tetapi setidaknya lembab), Riyadh bakalan seperti neraka. Dalam waktu sehari saja kulit kita akan langsung menghitam. Tetapi ada satu hal yang bisa kita pelajari dari cuaca di Timur Tengah, bahwasanya perbedaan suhu siang hari sangat jauh dengan di malam hari.

Lay out King Khalid International Airport (landasannya memakai perkerasan beton semua)

Tiba di Riyadh setelah menempuh perjalanan 9 jam lebih membuat badan kaku dan tidak enak (mungkin ini yang namanya jet-lag itu ya?!). Melakukan sedikit peregangan tentu akan sangat membantu. Apalagi desain interior King Khalid International Airport yang cantik dan menawan. Dengan desain minimalis khas Arab, bandara ini berhasil membuat saya merasa nyaman dan kagum. Tetapi lagi-lagi saya harus merasa kecewa dengan pelayanan imigrasinya. Bayangkan saja, kami harus menunggu selama 4 jam lebih untuk sekedar mendapatkan stempel. Tetapi tidak hanya kami saja, melainkan semua pendatang yang baru pertama kali tiba di Riyadh akan diberlakukan seperti itu. Apakah itu berarti para petugasnya sangat sibuk? Sebenarnya tidak juga, tampaknya memang begitulah kebijakan yang ada. Membuat para pendatang baru menunggu lamaaa sekallliiiiii. Tapi tenang saja, apabila anda sudah pernah datang sebelumnya, ada loket imigrasi khusus bagi para pendatang lama (re-entry visa). Dan itu kita tidak dibuat menunggu.

Desain interior King Khalid Airport

— Bersambung rek —

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s