PhD Tips #1: Be Efficient!

Ok! Sekarang saatnya saya untuk benar-benar serius menghadapi kehidupan baru saya sebagai seorang PhD student. Sudah 3 minggu saya datang ke negeri Kangguru dan sudah 1 minggu saya memulai perkuliahan (aka. Riset) di kampus. Minggu pertama ini terasa begitu cepat berlalu. Padahal yang saya lakukan hanyalah duduk di depan komputer, mencari referensi, membaca buku, berdiskusi dengan kedua supervisor saya (1x) dan mencoba berinteraksi dengan rekan-rekan PhD student lainnya. Dan karena saya masih ‘numpang’ di rumah orang, saya harus mencari tempat tinggal yang sesuai dengan budget dan sekaligus nyaman untuk ditinggali. Dan ternyata urusan mencari tempat tinggal di OZ tidak gampang. Saya harus melakukan inspeksi, mengisi formulir aplikasi rental, mengurus dan menandatangani perjanjian rental, mengurus koneksi utilitas (listrik, air, gas, internet) sampai nantinya harus mengambil kunci apartemen itu ke kantor agennya sebelum kepindahan saya nanti.

Belum lagi ternyata paper-paper yang saya kumpulkan selama 1 minggu ini ternyata tidak berguna dengan kepentingan riset saya. Sebenarnya ini karena setelah berdiskusi panjang lebar dengan kedua supervisor, akhirnya topik riset saya berubah. Dengan kata lain saya harus memulai dari awal dan mempelajari lagi hal yang baru bagi saya meskipun tidak sama sekali baru (baca tips #2 tentang cara menyikapi perubahan topik riset). Well, saya merasa satu minggu ini menjadi tidak efektif! Kalau begini saya mesti segera memantapkan diri saya sendiri dan harus belajar dengan cara yang lebih efisien!

Seperti yang kita ketahui (tapi mungkin tidak kita sadari), ada banyak sekali peristiwa yang terjadi di sekeliling kita dalam sehari. Mulai dari bangun tidur sampai pergi tidur, kita berinteraksi dengan diri kita sendiri dan dengan orang lain. Semua kejadian dan aktifitas itu ada yang benar-benar berguna dan memberikan dampak/pengaruh terhadap tujuan yang menjadi target kita. Ada pula yang tidak memberikan dampak/pengaruh, atau yang berdampak tetapi tidak besar. Nah apabila kita tidak fokus dengan hal-hal yang berdampak besar terhadap tujuan kita dan (seringnya) melakukan hal-hal sepele yang tidak berdampak dengan tujuan kita, maka kita menjadi tidak efisien. Kita hanya membuang-buang waktu dengan hal-hal yang dinamakan Out of the Circle of Influence. Kita hanya menjadi reaktif atas hal-hal yang sedang terjadi dengan kita.

Sekarang bagaimana caranya untuk menjadi efisien?

Pertama tentu saja kita harus menyadari bahwa menjadi efisien berarti kita harus mulai menetapkan prioritas berdasarkan dampak/pengaruhnya terhadap tujuan kita. Menetapkan prioritas ini dapat diartikan bahwa kita menjadi secara aktif menentukan apa yang penting untuk dilakukan oleh kita, tidak menjadi sekedar reaktif terhadap hal-hal yang sedang terjadi kepada kita. Dengan menjadi proaktif, kita memegang kendali atas hal-hal yang terjadi dan apa yang ingin dan sebaiknya kita lakukan.

Setelah kita menetapkan prioritas, kita juga harus membulatkan tekad dan memiliki self-discipline. Prioritas apapun yang telah kita tetapkan kalau tidak dibarengi dengan tekad dan disiplin untuk melakukannya, maka kita tidak akan maju memeroleh hasil yang kita inginkan. Kita menjadi tidak efisien! Tekad dan self-discipline ini harus terus dipupuk setiap saat, setiap hari dengan selalu mengingatkan diri sendiri terhadap prioritas dan hal-hal yang harus dikerjakan demi tercapainya tujuan. Salah satu caranya adalah dengan mencatat target/tujuan kita, dan prioritas hal-hal yang harus kita kerjakan. Kemudian setiap pagi usahakan untuk membacanya dan membulatkan tekad untuk melaksanakannya.

Terakhir adalah dengan mengejawantahkan prioritas tersebut kedalam program pelaksanaan yang lebih detail. Misalnya, sebagai seorang PhD student, saya mempunyai prioritas untuk membaca minimal 1 paper dalam 1 hari. Atau prioritas saya adalah untuk membentuk kelompok riset yang sesuai dengan topik saya sehingga akan dapat membantu saya. Bisa pula dengan memastikan bahwa saya akan menulis 4 jam dalam sehari. Semua ini adalah perwujudan dari prioritas-prioritas tersebut sehingga tujuan utama yang lebih besar (dalam kasus ini adalah menyelesaikan program PhD tepat waktu) menjadi tercapai.

hansen's room

 

Berjuanglah dengan penuh semangat!

 

Transaksi dari Luar Negeri dengan KeyBCA

Sebenarnya jauh-jauh hari sebelum berangkat ke negeri Kangguru saya sudah mencari-cari informasi bank apa saja yang bisa melakukan transaksi dari luar negeri. Usut punya usut, ternyata hanya bank BCA saja yang memungkinkan kita untuk bertransaksi dari luar negeri. Tentu syaratnya adalah punya tabungan BCA dan keyBCA yang sudah aktif serta punya jaringan internet.

Bank BCA dengan fasilitas keyBCA nya memberikan kemudahan bagi saya. Kurang dari seminggu sejak saya berdiam di Melbourne, Australia, saya mesti melakukan transaksi ke bank Indonesia. Pada transaksi pertama, saya hendak mendaftarkan akun BCA baru ke dalam daftar transfer saya. Ternyata ditolak. Saya kaget dan mulai mencari-cari cara kenapa kok tidak bisa melakukan transaksi. Saya pun teringat dengan cerita istri saya yang kemarinnya berniat melakukan pembayaran asuransi via keyBCA tetapi tidak berhasil. Setelah 30 menit berlalu tanpa hasil, saya mencoba melakukan transfer ke salah satu nomor rekening yang sudah terdaftar sebelumnya. Ternyata bisa!! Transaksi berhasil!

Saya pun kembali optimis dan mulai mencoba mendaftarkan akun baru tersebut dan syukur ternyata bisa direspon. Saya pun segera melakukan transfer ke akun baru tersebut dan transaksi dinyatakan berhasil. Kemudian saya meminta istri saya untuk mencoba bertransaksi pembayaran asuransinya melalui keyBCA saya. Akhirnya juga berhasil.

Yup! Fasilitas keyBCA ini sangat membantu nasabahnya yang sedang berada di luar negeri tetapi perlu melakukan transaksi ke Indonesia. Selamat mencoba.

 

 

Buku “Awardee Stories: Kisah dan Kiat Para Penerima Beasiswa LPDP”

Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) adalah lembaga yang bertanggung jawab langsung kepada Menteri Keuangan dan berpedoman pada kebijakan Dewan Penyantun yang terdiri dari Menteri Keuangan, Menteri Ristek-Dikti, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, dan Menteri Agama. Lembaga ini memberikan layanan pembiayaan pendidikan yang meliputi program beasiswa, pendanaan penelitian, pengelolaan dana cadangan, dan rehabilitasi sarana pendidikan yang rusak karena bencana alam.
Sejak kemunculannya pada 2012, LPDP telah menjadi sponsor beasiswa yang paling ditunggu-tunggu. Setiap tahunnya, ribuan putra-putri bangsa berkompetisi untuk mendapatkan bantuan studi lanjut tingkat master atau doktoral, baik di dalam maupun di luar negeri.
Agar berhasil memperoleh beasiswa tersebut, setiap pelamar harus mempersiapkan diri dengan baik, antara lain dengan memahami nilai-nilai budaya LPDP dan mempelajari kiat-kiat lolos seleksi LPDP seperti yang dipaparkan dalam buku ini. Buku ini juga secara lengkap membahas berbagai persiapan yang harus dilakukan, program-program beasiswa yang ditawarkan oleh LPDP, dan program Persiapan Keberangkatan (PK). LPDP hanya akan menginvestasikan dana pendidikan pada mereka yang unggul secara akademik, memiliki keterampilan dan kepemimpinan yang andal, berintegritas, serta memiliki kepekaan, dan daya inovasi untuk membangun Indonesia.

9786020355337_awardee-stories_kisan-dan-kiat-para-penerima-beasiswa-lpdp.jpg

 

Going to Melbourne

Sabtu, 1 Juli 2017 adalah penerbangan kami berdua menuju kota Melbourne. Sebuah kota di Tenggara Australia ini telah menjadi idaman bagi saya dan istri. Mengapa? Soalnya Melbourne terkenal sebagai kota yang nyaman dihuni. Selain aman dan nyaman, kota ini juga menawarkan banyak obyek wisata baik yang gratis maupun berbayar yang sayang untuk dilewatkan.

Kami pun menumpangi Garuda Indonesia (satu-satunya maskapai yang menawarkan penerbangan langsung dari Jakarta ke Melbourne) selama 6,5 jam. Memang sih agak mahal apalagi untuk berdua dan sekali jalan kami harus menghabiskan 14,7 juta rupiah. Tetapi mau bagaimana lagi, saatnya kami berangkat. Untuk persiapan pun kami berusaha membawa seperlunya. Mengingat saat keberangkatan kami Australia sedang menghadapi musim dingin, kami pun membawa banyak baju tebal dan jaket. Oh ya, cuaca dingin disini bisa menyebabkan kulit menjadi kering dan gatal. Jadi kalau belum terbiasa sebaiknya membawa krim pelembap kulit.

Bawaan lain adalah beberapa snack pengobat rindu Indonesia. Ada kerupuk dan opak belum digoreng yang dibuat mama saya. Agak deg2an juga sebenarnya. Soalnya dengar-dengar imigrasi Australia cukup ketat apabila kita membawa makanan masuk ke negera tersebut. Tapi ya sudahlah. Dicoba saja. Akhirnya sampai juga kami di bandara Tullamarine. Saat menghadapi imigrasi, ternyata bagi penumpang family dapat maju bersamaan dengan keluarganya. Hal ini sangat mempercepat proses identifikasi di imigrasi.

Selesai dari imigrasi kami mengambil barang bawaan yang terdiri dari 2 koper besar dan 2 koper kecil. Total berat yang diijinkan oleh maskapai Garuda adalah 30 kg/orang. Karena kami berdua, jadi total 60 kg. Oh ya, lupa menginformasikan bahwa berat 1 koper maksimum 32 kg (bila kita menaiki Garuda). Jadi sebaiknya benar-benar ditimbang dulu sebelum bagasi bawaan dicheck-in di bandara. Begitu keluar, kami langsung disambut dengan hawa dingin menggigil. Begitu saya nyalakan iphone, ternyata suhunya 6 derajat (tgl 2/7). Tenang saja, di sekitar bandara tersedia wifi gratis yang bisa digunakan. Jadi kita bisa menghubungi orang yang akan menjemput kita, dan orang-orang rumah bahwa kita sudah sampai dengan selamat. Sudah tak sabar nih menjalani hidup di negeri orang. See you next time!

 

IMG_9351.JPG
Di dalam Garuda Airline

 

 

 

IMG_9359.PNG
Kami berangkat malam, sampai Melbourne pagi jam 9 lebih. Suhu sedang dingin-dinginnya.

Construction Surveying Practice – Total Station Principles

Kamis (9/6), mahasiswa semester II dan IV Program Studi (Prodi) Manajemen dan Rekayasa Konstruksi (MRK) mendapat kuliah tamu dari Bapak Deni Suwardhi, seorang pakar fotogrametri dari Geodesi dan Geomatika ITB, mengenai Survey, Pemetaan dan Sistem Informasi Spasial 3 D dalam Arsitektur dan Konstruksi di Kampus Podomoro University. Kuliah tamu ini diselenggarakaan oleh Prodi MRK sebagai penutup dari rangkaian mata kuliah Construction Surveying oleh Bapak I Made Brunner.

Dr. Deni Suwardhi

Total Station

Apresiasi

Apresiasi

Foto Bersama

8th Technical Visit: Indonesia 1 Tower

Mahasiswa Program Studi Manajemen dan Rekayasa Konstruksi (MRK) Podomoro University mendapatkan kesempatan untuk belajar langsung di lapangan mengenai struktur pondasi bangunan gedung pencakar langit pada Kamis, 2 Juni 2016. Bertempat di Tower Indonesia Satu – Jalan ­Thamrin, Jakarta Pusat. Obyek pembelajaran meliputi struktur bawah (pondasi,basement, dan diaphragm wall).

klik lebih lanjut

DSC00883 DSC00885 DSC00888 DSC00893 DSC00904 DSC00928

Image_3af638d Image_cd83ab9

QS Professional Practice: Contract & Estimating

“Tidak hanya 3 lagi, tapi sekarang sudah ada 6 aspek yang perlu diperhitungkan dalam proyek konstruksi”, demikian penjelasan dari Ellyyanti pada perkuliahan dosen tamu di ruang 505 yang diselenggarakan oleh Prodi MRK (Manajemen & Rekayasa Konstruksi). “Di Indonesia memang umum diketahui 3 aspek penting yaitu biaya, mutu, dan waktu. Tetapi sekarang tren dalam mengelola sebuah proyek konstruksi tidak hanya 3 aspek tadi, tapi juga ditambah dengan aspek keselamatan, lingkungan, dan kontrak.”

klik lebih lanjut

Kuliah Tamu Prodi MRK Mahasiswa prodi MRK Podomoro University Bu Ellyyanti Penjelasan Estimating & Contract Penjelasan SMM Apresiasi Apresiasi Foto Bersama