Construction Surveying Practice – Total Station Principles

Kamis (9/6), mahasiswa semester II dan IV Program Studi (Prodi) Manajemen dan Rekayasa Konstruksi (MRK) mendapat kuliah tamu dari Bapak Deni Suwardhi, seorang pakar fotogrametri dari Geodesi dan Geomatika ITB, mengenai Survey, Pemetaan dan Sistem Informasi Spasial 3 D dalam Arsitektur dan Konstruksi di Kampus Podomoro University. Kuliah tamu ini diselenggarakaan oleh Prodi MRK sebagai penutup dari rangkaian mata kuliah Construction Surveying oleh Bapak I Made Brunner.

Dr. Deni Suwardhi

Total Station

Apresiasi

Apresiasi

Foto Bersama

8th Technical Visit: Indonesia 1 Tower

Mahasiswa Program Studi Manajemen dan Rekayasa Konstruksi (MRK) Podomoro University mendapatkan kesempatan untuk belajar langsung di lapangan mengenai struktur pondasi bangunan gedung pencakar langit pada Kamis, 2 Juni 2016. Bertempat di Tower Indonesia Satu – Jalan ­Thamrin, Jakarta Pusat. Obyek pembelajaran meliputi struktur bawah (pondasi,basement, dan diaphragm wall).

klik lebih lanjut

DSC00883 DSC00885 DSC00888 DSC00893 DSC00904 DSC00928

Image_3af638d Image_cd83ab9

QS Professional Practice: Contract & Estimating

“Tidak hanya 3 lagi, tapi sekarang sudah ada 6 aspek yang perlu diperhitungkan dalam proyek konstruksi”, demikian penjelasan dari Ellyyanti pada perkuliahan dosen tamu di ruang 505 yang diselenggarakan oleh Prodi MRK (Manajemen & Rekayasa Konstruksi). “Di Indonesia memang umum diketahui 3 aspek penting yaitu biaya, mutu, dan waktu. Tetapi sekarang tren dalam mengelola sebuah proyek konstruksi tidak hanya 3 aspek tadi, tapi juga ditambah dengan aspek keselamatan, lingkungan, dan kontrak.”

klik lebih lanjut

Kuliah Tamu Prodi MRK Mahasiswa prodi MRK Podomoro University Bu Ellyyanti Penjelasan Estimating & Contract Penjelasan SMM Apresiasi Apresiasi Foto Bersama

7th Technical Visit: Sopo del Office & New Harco Glodok

Ada pelajaran menarik yang dipetik para mahasiswa Program Studi Manajemen dan Rekayasa Konstruksi (MRK), Podomoro University, dari kunjungannya ke dua proyek: Sopo del Office dan Harco Glodok. Sopo del Office berlokasi di kawasan Mega Kuningan, Kuningan, Jakarta Selatan. Sementara, Harco Glodok berada di kawasan Glodok, Jakarta Barat. Kunjungan itu mereka lakukan pada awal April 2016.

klik lebih lanjut

20160407_090934 20160407_092758 20160407_093903 20160407_103628 20160407_104527 20160407_105603 20160407_112545 20160407_115155 20160407_134923 DSC03734

Pembayaran Bersyarat Kepada Subkontraktor

Permasalahan yang cukup sering terjadi terkait pembayaran kepada subkontraktor oleh kontraktor utama adalah klausul ‘pay-when-paid’ dan ‘pay-when-certified’ dalam kontrak sub. Maksudnya disini adalah terjadinya sebuah kondisi yang menyatakan bahwa pembayaran kepada subkontraktor oleh kontraktor utama hanya dapat dilakukan apabila kondisi tertentu terpenuhi. Kondisi tertentu tersebut didefinisikan ke dalam 2 (dua) pengertian, yaitu:

  1. Kontraktor utama hanya akan membayar pekerjaan subkontraktor apabila kontraktor utama telah menerima pembayaran dari pemilik proyek untuk pekerjaan subkontraktor itu – disebut pula ‘pay-when-paid’ atau ‘pay-if-paid’.
  2. Kontraktor utama hanya akan membayar pekerjaan subkontraktor apabila kontraktor utama telah menerima sertifikat pembayaran dari konsultan MK untuk pekerjaan subkontraktor itu – disebut pula ‘pay-when-certified’.

Kedua klausul ini tentu memberatkan subkontraktor karena pada intinya tidak terdapat hubungan kontraktual antara subkontraktor dengan pemilik proyek dan dengan demikian kontraktor utama tidak dapat menjadikan hal tersebut sebagai kondisi pembayaran atas pekerjaan subkontraktor. Ketika subkontraktor dihadapkan pada klausul pay-when-paid atau pay-when-certified di dalam kontrak sub, maka terdapat resiko yang harus ditanggung oleh subkontraktor manakala kontraktor utama tidak menerima pembayaran dari pemilik proyek yang bukan diakibatkan oleh kekeliruan atau cacat pekerjaan subkontraktor. Hal ini dikarenakan subkontraktor tidak mengetahui isi perjanjian kontrak utama antara pemilik proyek dengan kontraktor utama terkait kondisi-kondisi penundaan pembayaran atau pengakhiran kontrak. Resiko inilah yang dianggap oleh subkontraktor sebagai hal yang tidak adil dan dalam beberapa sistem peradilan, klausul ini dinyatakan tidak berlaku.

 

— dikutip dari buku MANAJEMEN KONTRAK KONSTRUKSI – Pedoman Praktis dalam Mengelola Proyek Konstruksi oleh Seng Hansen, Gramedia (Mei 2015)

manajemen kontrak konstruksi

Perubahan Pekerjaan

Perubahan pekerjaan atau perubahan lingkup pekerjaan (variations) merupakan hal yang cukup sering ditemukan dalam pelaksanaan proyek konstruksi. Terdapat 3 (tiga) alasan mengapa perubahan pekerjaan terjadi di dalam pelaksanaan konstruksi:

  1. Konsultan perencana (desainer) belum menyelesaikan semua gambar dan perhitungan desain sebelum kontrak ditandatangani,
  2. Pemilik proyek mengubah keinginan mereka sebelum pekerjaan selesai,
  3. Terjadi perubahan perundang-undangan atau faktor eksternal lainnya yang mempengaruhi tim proyek dan proses pelaksanaan konstruksi.

Secara umum, kontrak dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga) yaitu:

  1. kontrak yang tidak mengijinkan terjadinya perubahan pekerjaan (variations) sama sekali;
  2. kontrak yang mengijinkan perubahan pekerjaan tetapi membatasi jangkauan dimana perubahan pekerjaan dapat dilakukan;
  3. kontrak yang mengijinkan perubahan pekerjaan.

Pada dasarnya, sesuai dengan karakteristik proyek konstruksi yang sarat dengan berbagai resiko perubahan, desain awal sebuah proyek konstruksi hampir tidak mungkin identik sama dengan hasil pekerjaan di lapangan. Perubahan-perubahan terhadap desain awal tersebut dapat terjadi sebagai akibat alasan teknis, estetika, kepraktisan, finansial, atau perubahan atas kehendak pemilik proyek sendiri.

Apabila kemungkinan perubahan-perubahan ini tidak dituangkan ke dalam kontrak konstruksi – atau dengan kata lain tidak terdapat klausul yang memungkinkan adanya perubahan pekerjaan di dalam kontrak konstruksi, maka perubahan tersebut tidak diperkenankan dan kontraktor tidak memiliki kewajiban untuk melaksanakan perubahan tersebut. Perubahan tersebut hanya dapat dilakukan dengan persetujuan kontraktor atau dengan cara membuat kontrak baru terpisah.

 

— dikutip dari buku MANAJEMEN KONTRAK KONSTRUKSI – Pedoman Praktis dalam Mengelola Proyek Konstruksi oleh Seng Hansen, Gramedia (Mei 2015)

manajemen kontrak konstruksi

Seminar “Professionals & Challenges in International Construction Industry”

Construction Engineering & Management Program of Podomoro University has held a seminar again. The theme for this seminar is “Professionals & Challenges in International Construction Industry”. CEM Program then invited Mr. Ir. Didit Oemar Prihadi, MM to become the speaker. Currently he is the President Director of PT. Waskita Karya Realty (a subsidiary of PT. Waskita Karya Persero Tbk). He has vast experience and he started his career since 1988 at Waskita Karya. His experience and professionalism has made him success in this industry.

 

DSC00914 DSC00926 DSC00932 DSC00935 DSC00949 20151210_113843 DSC00968 DSC00973 DSC00981

20151210_122247

download the material:

Presentasi Podomoro